Nestapa Rohingya Muslim:Bukan Ancaman (Peluang) Bagi Yang Mapan

Menjadi perdebatan dan pembicaraan kini di media dan sosial media Myanmar dan portal-portal berita analisy, mengenai siapa sebenarnya Rohingya Muslim (saya menyebut Rohingya lebih dulu untuk menegaskan mereka adalah Muslim yang tinggal Rohingya melihat kenyataan yang ada). Bahwa banyak sekali perbedaan pendapat yang banyak mengemuka,di artikel-artikel internet dan dunia maya dengan berbagai sumber atau referensi dan atau penelitian langsung dilapangan.
Siapakah mereka Rohingya Muslim? Sejak kapankah mereka ada? Kini pendapat yang ada setidaknya dapat di bagi menjadi 2 golongan besar, yakni:

  1. Mereka yang mendukung teori leluhur dari suku bangsa yang kita sebut Rohingya Muslim sudah tinggal di daerah yang disebut Rakhine kini (bagian dari Negara Myanmar), sudah tinggal sejak abad ke -9. Artinya sudah Seribu tahun mereka tinggal di tanah itu.
  2. Kelompok kedua mendukung teori yang mengatakan bahwa ada Myanmar Muslim yang leluhurnya sudah tinggal di Rakhine (atau daerah Myanmar lain) sejak abad ke-9 Masehi hingga hari ini, dimana leluhur mereka sudah saling bahu membahu dan mendukung kemerdekaan Myanmar, dan menjadi masyarakn Myanmar yang tidak bisa diganggu gugat siapapun, tapi mereka bukan suku Bangsa Bengali (atau yang kita sebut Rohingya Muslim ini).
Menjadi bahat perdebatan hangat bagi yang mendukung point kedua, yakni bersikukuh bahwa Suku Bangsa yang kita sebut Rohingya Muslim itu adalah sebutan yang bernuansa Politis, atau citra yang dibangun, sebagai dukungan penegasan bahwa mereka berhak tinggal di tanah itu (bukan tinggal Ilegal), sebutan yang turut didukung oleh Aung San Suu Kyi untuk lebih meng-Myanmar-kan mereka.
Dimana mereka yang menolak menyebut mereka Rohingya Muslim, dan terus mengatakanmereka adalah bangsa Bengali, yang  berasal dari daerah Bengali India dulu (kini bagian Bangladesh), yang masuk ke Myanmar sebagai pendukung dan masa Penjajah Inggris, yang tidak turut mendukung atau berjuang untuk kemerdekaan Myanmar, atau lebih parah lagi membantu penjajah.
Mereka dituduh sebagai pendatang ilegal yang terus menerus masuk ke Rakhine lewat jalur Ilegal sejak jaman Inggris yang memberi kebebasan mereka datang ke Myanmar, yang membuat jumlah penduduk Rohingya Muslim sangat membludak hingga menakutkan penduduk asli Arakan yakni suku Bangsa Rakhine dan semua bagiannya.

Setidaknya ada 3 faktor utama yang menyebabkan semakin rumit dan runyamnya masalah ini yakni:

  1. Kesenjangan Ekonomi, Politik dan Budaya diantara suku bangsa di Myanmar, dimana Suku Mayoritas Burma menguasai hampir semua sektor hingga Suku Asli Arakan: Rakhine semakin meresa terjepit diantara Suku Burma dan agresifitas suku Bangsa Rohingya Muslim.
  2. Adanya milisi bersenjata bernama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), yang menyerang tentara dan Polisi Myanmar, yang dituduh Pemerintah Myanmar sebagai bagian dari teroris ISIS, dan mengaku berjuang untuk perjuangan dan kemerdekaan bagi Rohingya Muslim.
  3. Kayanya daerah Arakan dan Myanmar  dengan Sumber Daya Alam melimpah, yang diincar Negara-negara maju dan besar. Dimana saat ini, China dan Rusia berada pada posisi yang paling kuat dan dominan, terakhir juga India sepertinya menjadi bagian kelompok ini, yang dipertegas oleh Perdana Mentri India Narendra Modi yang mendukung tindakan Pemerintah Myanmar melawan Terorisme, seperti mengesampingkan isu kemanusian pengungsi Myanmar yang tentu leluhur mereka punya hubungan dekat. Dan Amerika dan Barat tidak biasanya ketinggalan roti besar SDA, hingga media-media Barat dituduh cenderung mengekspos besar-besaran sisi HAM dan kemanusian atas pengunggi ini bukan pada penyelesaiannya, dan terus menyerang Pemerintah Myanmar, demi mengejar bagian Roti besar SDA di Myanmar.
Kejanggalan-kejanggalan juga dapat dilihat, seperti tidak ada pihak yang benar-benar ingin penyelesaian akan hal ini, seperti berikut:
  1. Negara yang menjadi tempat asal dari dari Muslim Rohingya ini pun sepertinya enggan menerima kembali saudara mereka untuk menjadi bagian dari Bangsa aslinya yakni: India dan pecahannya (Pakistan dan Bangladesh). dengan tetap memberi identitas pengungsi bagi mereka dan mencegah bertambahnya pengungsi.
  2. Negara-negara Muslim lainnya seperti Malaysia, Indonesia, Turki, Negara-negara Teluk dan Arab pun sepertinya mau membantu, tetapi tetap menjadikan mereka pengungsi.
  3. Tidak ada kesepakan Dunia international lewat media-media utama untuk menyebut milisi ARSA sebagai teroris atau separatis, seperti Milisi di Marawi Philipina, atau mengupas pengungsi Budha meski dalam skala kecil.
  4. Dunia international dan PBB terus mengkampanyekan untuk mengutuk tindakan ini tetapi tetap tidak ada tindakan konkret untuk penyelesaian jangka panjang, ini tentu tidak lepas dari 2 hal berikut:
  • Bahwa pengungsi Rohingya adalah bencana kemanusian, tetapi tidak mematikan bagi para pemilik kekuasaan dan orang kaya di dunia ini, karena bencana ini hanya menggugah rasa kemanusian, bukan ancaman mematikan seperti wabah Ebola (yang membuat dunia cepat bergerak dan mengambil tindakan) konkret dan nyata untuk menyelesaikannya.
  • Bencana ini adalah peluang yang sangat berharga untuk mengambil keuntungan ekonomi bagi yang mendukung Pemerintah Myanmar atas tindakannya maupun yang menentang dan menganggap ini sebagai bencana kemanusia bahkan genosida. Sehingga lebih elok tetap menjadikannya sebagai masalah dalam Negeri Myanmar ketimbang mereka yang berkepentingan berhadap-hadapan.

Satu Juta orang Rohingya tentu bukan masalah jika dibagikan pada 20 negara saja, karena tiap negara akan perlu mengurus 50ribu orang. Tapi bagaimana negara lain, akan terima jika saudara asli mereka sendiri di Negara India, Pakistan dan Bangladesh tidak mau atau tidak percaya akan kesetian mereka? Mungkin itulah faktor utamanya. (diolah dari berbagai Sumber).

Peta Etnis Myanmar
Peta ini menunjukkan daerah yang dihuni etnis Minoritas termasuk Rohingya Muslim, ditengah etnis Mayoritas Burma. photo(http://mwcnews.net)
Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook