Belajar dari Kasus Habib Rizieq: Mengerti Kapan Harus Berhenti dan Berubah

Demo 212 tahun lalu benar-benar mengangkat pamor Rizieq, diakui atau tidak mengumpulkan massa berjumlah ratusan ribu orang (bahkan ada yang mengatakan mencapai satu juta orang) bukanlah hal yang mudah.

Meski ada isu demo itu di biayai tetapi hal itu bukan lah alasan untuk menghilangkan kesuksesan besar itu.

Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab
Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab akhirnya tiba di Markas Polda Jawa Barat sekitar pukul 09.25 WIB menggunakan mobil merek Mitsubshi Pajero Sport warna putih dengan nomor Polisi B 1 FPI. 18 Jan 2017 (photo: Tribun.com)

Saat itu menurut saya Rizieq dan FPI telah mencapai puncak keberhasilan dalam perjalanan hidupnya dan Organisasinya dibawah pimpinannya. Apa yang mungkin dalam statistik disebut sebagai titik batas atas/puncak. Sebuah pencapaian yang sangat baik dan menguntungkan untuk dilanjutkan dan dipertahankan.

Mengerti kapan harus berhenti dan Berubah adalah sebuah keputusan paling sulit untuk didapatkan, karena keinginan duniawi seperti kehormatan dan ambisi untuk lebih dan lebih lagi adalah dorongan nurani manusia yang memang manusiawi dan tak akan bisa di batasi.

Dalam sebuah Pelatihan yang saya dapat di internal perusahaan, seorang yang memberi makalah dari induk perusahaan dari negara tetangga, saya mengerti bahwa karena keinginan lebih dan lebih lagi itu adalah manusiawi sekali dan hal yang hampir tidak mungkin bisa di redam dan dihentikan mengingat puncah pretasi dan keberhasilan itu memang tidak ada Batasan pada umumnya.

Ituah alasan mengapa orang-orang sukses dunia seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, Warren Buffett dan lain-lain mengubah fokus ambisi mereka dari mengembangkan usaha untuk lebih dan lebih besar lagi menjadi membantu orang lebih dan lebih banyak lagi. Mereka mendonasikan sebagian besar penghasilan dan kekayaannya dari usahanya untuk Donasi atas nama kemanusiaan.

Maka ambisi dan orientasi mereka berubah dari dari kepentingan Bisnis menjadi kepentingan kemanusian. Sebuah ambisi dan kepentingan yang tidak akan pernah merugikan siapapun, sebuah ambisi yang membuat mereka juga tidak akan berhenti mencari ide mengembangkan bisnisnya, sebuah ambisi yang tidak akan pernah berkesudahaan. Dan Terpenting sebuah ambisi yang tidak akan pernah membuat sebuah kesombongan dan keangkuhan.

Berbeda terbalik dengan Rizieq dan FPI nya yang seperti kelewatan sehingga sekarang banyak menerima kasus tuntutan dan sibuk dengan kasus-kasus, mulai kasus tuduhan Palu Arit di uang baru yang di keluarkan BI, kasus Hansip yang merasa terhina, Kasus Sampurasun, dan lain-lain.

Yang teranyar adalah kasus tuduhan atas pidato Megawati yang berujung jadi bumerang pada dirinya.

Rizieq sepertinya terjun bebas dengan kasus-kasus yang terus mendera, dan akan terus jatuh jika tidak merubah caranya kedepan. Perubahan ya

ng juga bisa membuat orang-orang yang mendukungnya berbalik meninggalkannya.

Salam Pewaris Nusantara.

Tag: kasus habib rizieq, habib rizieq, habib rizieq tersangka, habib rizieq ahok, habib rizieq terbaru, habib rizieq terbaru 2017, kasus habib rizieq pancasila, berubah atau punah, berubah atau kalah, berubah menjadi lebih baik, berubah jadi lebih baik, pembangunan Karakter,

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook