Menyambut 2017: Belajar Mengambil Peran dan Tanggung Jawab Sosial

Minggu terakhir penghujung 2016 ini,  ini kita di kejutkan dengan Perampokan Sadis di perumahan Pulomas, Pulau Gadung Jakarta Timur,  yang menewaskan 6 orang yang disekap dalam kamar mandi yang minim ventilasi udaranya.

Semua pihak mengutuk dan banyak yang merasa dipermalukan, karena semua pelaku berasal dari satu Etnis yang mudah dikenal dari marga-marga yang dikenakan pada namanya yakni, Butar-butar, Situmorang, Sinaga dan Pane (Sitorus).

Kebersamaan untuk mengambil tanggung jawab sosial sangat ampuh
Kebersamaan untuk mengambil tanggung jawab sosial sangat ampuh (illustrasi: jogjaistimewaku.com)

Yang paling dipermalukan terutama adalah yang semarga dan/atau punya hubungan dekat dengan marga pelaku tersebut, dan melampiaskan kekesalannya di media sosial setidaknya dengan dua cara, yakni:

1/ merasa terpukul dan malu atas tindakan pelaku yang meski itu adalah urusan Pribadi tetapi label Marga yang tersemat pada nama pelaku-secara moril adalah benar-benar mempermalukan semua orang yang semarga atau marganya dekat dengan Pelaku.

2/ Coba menyenangkan diri dengan cara seolah membela diri (bila dinilai orang lain) dengan mengatakan hal itu adalah urusan Pribadi pelaku, dan semua kejahatan bisa dilakukan oleh siapapun dan kapanpun tanpa mengenal dan bisa dikaitkan dengan SARA. Dan sebagian lagi lebih extrim dengan cara membandingkan dengan hal lain yang dianggap kejahatan yang lebih besar dan punya pengaruh berantai daripada perampokan sadis Pulomas.

Secara Adat Batak tentunya tak seorangpun Batak bisa lepas dari tanggung jawab moral atau kejadian ini, terutama mereka yang semarga atau marganya punya hubungan dekat dengan pelaku. Bentuk tanggung jawab yang diemban setidaknya adalah keprihatinan dan perhatian, karena dalam Adat Batak ada ikatan emosional secara darah yang dibisa ditelusuri lewat marga-marga yang melekat diakhir nama semua “Orang Batak”.

Bagaimana “Orang Batak” bisa mengelak jika sejak kecil selalu ditanamkan bahwa semarga adalah saudara atau saudari kita, semua semarga dengan Ibu adalah Paman yang dalam posisi Adat Batak berposisi sebagai manusia paling dihormati di dunia ini, dan semua …….. lain lain. Karena masih banyak lagi unsur-unsur pengikat secara aturan Adat Batak yang bisa diketahui dengan cara Martutur/Ertutur yakni mencari hubungan Adat lewat Tarombo/Silsilah keluarga diantara 2 orang atau lebih umumnya dilakukan bagi orang yang baru berkenalan.

Hal itu terlihat pada kasus Sonia Ekarina Sembiring April 2016 lalu, yang mengaku anak dari Irjern Polisi Arman Depari, yang pada akhirnya juga Irjen Amran Depari akhirnya mengakui bahwa secara Adat Sonia adalah Putrinya terlebih dia masih anak saudaranya seayah dan seibu. Kita salut pada beliau yang turut ambil bagian dalam kasus tersebut dan meminta maaf secara terbuka pada publik.

Jika dilihat dalam sistem politikus kita terkini hal-hal seperti ini dianggap akan merendahkan reputasi diri dan reputasi kelompok atau partainya, sehingga untuk mengambil bagian secara moral dari suatu masalah bagaikan aib yang harus di hindari. Bagi umumnya politikus lebih baik mengelak daripada turut merasa bertanggung jawab di hadapan publik.

Contoh teranyar adalah kasus pertengahan Desember 2016 ini, yakni Penghinaan para Pahlawan non Muslim yang photonya ada dalam Uang lembaran baru Republik Indonesia 2016, yang dilakukan oleh seorang kader PKS bergelar Master Psikologi bernama Dwi Estiningsih yang juga adalah seorang Guru, dimana Partai yang yang menaunginya seperti lepas tangan dengan mengatakan ini adalah pernyataan Pribadi sehingga PKS tidak merasa salah atau terlibat atas pernyataan kadernya di media sosial.

Secara politik tentu dimengerti itulah cara PKS mempertahankan kader setianya, jika memang benar kabar-kabar bahwa model kader Dwi Estiningsih inilah yang menjadi mayoritas anggota partai ini, sehingga untuk mengambil tindakan saja atau mengakui kesalahan kadernya sangat di hindari, karena bisa menyakiti kader mayoritasnya yang setipe Bu Guru ini mungkin.

Dalam kehidupan sosial masyarakat seharusnya hal-hal ini tidak pantas diikuti, karena kejadian-kejadian itu harusnya bisa jadi pelajaran bagaimana mengambil tanggung jawab sosial setidaknya untuk membantu menyelesaikan atau meredakan masalah.

Misalnya, kembali pada kasus Pulomas, bagi “Orang” Batak yang semarga atau marganya dekat dengan Yus Pane, bisa menyerukan agar Yus Pane menyerahkan diri pada yang berwajib, dan mendoakan mendorong para korban dan keluarganya bisa melalui kepedihan ini dengan segera.

Kemudian yang “Orang-orang” Batak yang bisa menjenguk pelaku bisa menemui pelaku dengan meminta dengan sangat kepada pelaku untuk bekerja sama membuka kebenaran seutuhnya kasus ini sehingga keadilan didunia ini bisa di tegakkan dengan secepat dan setepat-tepatnya.

Hal tersebut akan mampu mengurang beban dari bagi korban, keluarga korban dan semua orang yang terlibat secara emosional.

Mengambil tanggung jawab terutama di media sosial dan masyarakat sekitar dengan tindakan-tindakan/komen positif tentu akan lebih baik dan lebih berguna ketimbang membanding-bandingkan kejahatan.

Mengambil tanggung jawab sosial tidaklah mudah, tapi akan sangat berfaedah.

Salam Pewaris Nusantara.

Tag: Tanggung jawab sosial, tanggung jawab, belajar tanggung jawab, belajar tanggung jawab di sekolah, belajar tanggung jawab remaja, belajar tanggung dalam bekerja, cara menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri, ciri orang bertanggung jawab, terangkan cara untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab, ciri tanggung jawab, ciri tanggung jawab sosial,

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook