Meng-Indonesia-kan Aksesories Natal: Sebuah Peluang Sisi Ekonomi

Ada saja hal-hal lucu yang terjadi di Negeri ini. Dari fatwa MUI yang mengharapkan ucapan Selamat Natal yang sering diprotes sebagian kalangan dengan mengucapkan versi Bahasa Inggrisnya : “Merry Christmas” atau sengaja berpoto dengan pohon Natal, sebagai tindakan lelucon satir karena fatwa ini.

Sampai isu-isu yang baru muncul yakni bergeraknya satu ormas untuk mendesak dengan mendapatkan tanda tangan agar karyawan tidak di wajibkan menggunakan aksesories Natal. Seperti di Surabaya ada aksi Ormas yang menyerukan ini di Mall-mall sambir berorasi.

Tidak ada aturan baku sebenarnya apa itu pernak-pernik Natal yang identic dengan ke Kristenan, yang ada saat ini adalah hanya produk dari sebuah kebudayaan yang berasal dari Barat yang berhasil masuk ke seluruh penjuru dunia, seperti juga isi surat DR Jan Aritonang pada MUI.

Dekorasi Pohon Natal Unik
Dekorasi Pohon Natal Unik (photo: FB.com)

Lebih elok sebenarnya MUI membuat fatwa untuk meminimalnya penggunanaan Budaya Barat, Budaya Timur tengah (sangat luar biasa kalau itu bisa) dan budaya luar lainnya untuk tidak diutamakan oleh masyarakat.

Aksesories Natal adalah produk kebudayaan yang dalam perkembangannya berhasil mempunyai nilai bisnis yang luar biasa besar, sayang tidak ada nilai pasar Natal yang saya dapatkan di Indonesia ini.

Sekedar perbandingan di Amerika Serikat menurut data Wikipedia.org bahwa nilai penjualan Pasar Swalayan di Amerika Serikat saja ada peningkatan dari bulan Nov 2014 USD 20,8 miliar (~Rp. 278 trilliun) menjadi USD31.9 miliar (~Rp. 427 triliun) di bulan Desember tahun yang sama, tercatat ada peningkatan nilai pasar sebesar 54% (~Rp. 149 triliun). Ini di Amerika serikat saja, dimana pemerintah benar-benar mampu meraup pajak yang besar dan peluang pekerjaan untuk memproduksi barang-barang bingkisan selama Natal.  Dan angka ini belum tingkat hunian hotel, penyewaan gedung, transportasi dan lain sebagainya.

Bisnis Natal secara komersial adalah bisnis yang menggiurkan, dan menarik bagi para pelaku ekonomi. Itulah sebabnya kenapa China seperti merelakan penduduknya yang mayoritas non Kristen untuk memeriahkan Natal, dimana mereka benar-benar menyerap budaya tersebut saat industrinya sudah mampu untuk memanfaatkan momen ini untuk meraih keuntungan besar. Tentunya dengan mengenalkan langsung pada masyarakan dan mendorong industrinya, maka ide-ide kreatif akan terus bermunculuan yang ujung-ujungnya akan menguntungkan rakyat dan pemerintah mereka.

Hal yang juga tidak disenangi Trump menurut mcclatchydc.com dimana Negara dengan pemerintahan Atheis ini mampu mengekpor Pohon Natal-saja senilai $1.1Miliar (setara Rp. 14.8 Trilliun) hanya dari Sembilan bulan awal tahun 2016 ini

Natal adalah bisnis saat ini, sehingga dari kalangan Gereja sendiri sudah mengkawatirkan perayaan Natal yang cenderung lebih menonjolkan nilai komersial dibanding dengan nilai spriritualnya.

Aksesories Natal mempu mendongkrat nilai perputaran uang dan menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit dan menggerakkan banyak sektor ekonomi hampir di seluruh dunia. Jadi jangan heran sebagian Negara Arab ingin mendapat bagian dalam bisnis “kue” Natal ini.

Tidak ada data yang saya dapat Nilai ekonomi Natal di Indonesia, tapi melihat nilai pasar di Amerika maka tentu ada pasar yang bisa dimanfaatkan Industri Nasional (terutama Industri kerajinan tangan) untuk mengembang pernak-pernik natal, tentunya dengan bantuan pemerintah untuk mendorong para Pelaku usaha dan seni tradisional lebih mengembangkan pernak-pernik yang mengangkat tradisi Nasional.

Negara ini kaya akan produk-produk kebudayaan, andaikan Aksesories Natal itu di reformasi atau di revolusi dengan membuat produk sesuai dengan budaya suku bangsa Indonesia, tentu akan mendatangan manfaat besar bagi pengerajin kebudayaan, dan bisa memaksa para pelaku industri aksesories untuk lebih giat mempelajari dan mengembangkan produk yang berdasarkan kebudayaan suku Bangsa Indonesia.

Seperti Pohon Natal, yang dulu cenderung berwarna hijau kini produk pohon Natal China telah membuat dominasi warna hijau Pohon Natal berubah.

Pohon Natal tentu bisa kita buah dari bahan Ijuk dari pohon Aren yang berwarna Hitam itu, yang tentunya technology sekarang memungkin untuk memberi warna warna kusus dan lebih ramah lingkungan.

Dan seperti aksesoriew Natal yang paling suka di sorot saat ini adalah Topi ala Santa Klaus, yang inilah keberhasilan dari negeri Eropa mempertahankan tradisi atau mitos untuk mengingat akan mereka yang perduli dan berbagi bagi sesame menjadi ikon yang menarik.

Tentu Topi itu juga tidak akan kalah menarik jika katakanlay di buat dari kain Batik atau tenunan tradisional yang bernilai itu misalnya.

Sebuah peluang yang baik sebenarnya, terlebih jika Gereja mau menjadi pionir perubahan ini misalnya dari acara natal gereja, tentu akan menarik dan diikuti oleh umat baik cepat atau perlahan-lahan, toh kalau sudah kita mengunakan kebudayaan Nasional maka jika ada yang mengusik, mereka akan mempermalukan diri mereka sendiri.

Tidak sulit melakukannya untuk bisa menjadi lebih Indonesia dengan sebuah kerendahan hati dan keinginan merubah dari pihak Gereja demi Indonesia. Untuk menjadi berkat untuk Negeri ini.

Selamat Natal.

Salam Pewaris Nusantara.

pernak pernik natal, bingkisan natal anak, bingkisan natal, hadiah natal untuk anak, hadiah natal, aksesoris natal terbaru, hiasan natal, hadiah spesial natal, Kado spesial natal,

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook