SBY: 2) Pengorbanan Paska Tsunami Aceh, Apakah Harus di Rusak?

SBY terbilang berhasil menangani dan merehabilitasi Aceh paska Tsunami, keberaniannya mengambil resiko untuk menerima pasukan asing dan perintah untuk menghentikan operasi militer demi kemanusiaan adalah dua hal yang patut di acungi jempol karena diambil dalam periode yang terbilang saat rawan, dimana beliau masih seumur jagung memimpin Negeri ini, dukungan itu mengalir juga dari pihak GAM yang seperti sepakat untuk menghentikan konflik sementara demi kemanusiaan.

Kota Banda Aceh Sebelum dan Sesudah Tsunami 2004
Kota Banda Aceh Sebelum dan Sesudah Tsunami 2004 (photo: nbcnews.com)

Kerelaan SBY saat membuka pintu bantuan asing termasuk masuknya tentara Asing saat itu benar-benar jadi pelajaran berharga, bagaimana seharusnya seorang pemimpin berani mengambil keputusan kurang popular yang beresiko demi kemanusian dengan tidak mengorbankan rakyatnya yang sedang menderita.

Suatu hal yang ditentang oleh seorang yang “dulu” disebut Pahlawan Reformasi Amin Rais. Yang berbicara atas sebuah ketakukan akan asing, yang disinyalir akan memanfaakan untuk operasi intelejen jika di ijinkan masuk Indonesia. Amin Rais yang juga seorang pemberi komentar berlebihan atas seruan seorang Pendata di Amerika yang menghembuskan isu SARA.

Pidato Presiden SBY Saat itu menghentak hati, seperti mengajari diri bahwa Bangsa Ini harus sadar akan kebutuhan bantuan Internasional untuk menangani Aceh Pasca Tsunami agar proses rehabilitasi dan pembangunan kembali bisa dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Kita ingat saat Tsunamai Aceh itu melanda, Indonesia belum memiliki Undang-Undang bencana, belum memiliki Badan Penanggulangan Bencana Nasional dan Daerah, dapat diartikan bahwa Bangsa ini dipimpin Presidennya saat itu tahu diri bahwa kita belum siap untuk melakukan management bencana dengan cepat tanpa bantuan Asing.

Tindakan yang baik sekali dengan mengutamakan kepentingan rakyat dan nilai kemanusiaan, sebuah pembelajaran yang penting telah di raih, yakni beranai mengambil dan melakukan keputusan penting berdasarkan kepentingan rakyat dalam nilai kemanusiaan.

Pelajaran tak kalah penting lainnya adalah bahwa rasa solidaritas sebangsa itu masihlah kuat, dan timbul kepermukaan dengan cepat melintasi Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan  baik di tingkat Nasional maupun Internasional.

Rasa sependeritaan telah membangun kebersamaan dan kepedulian Nasional diantara dan bersama Pemerintah termasuk aparatnya dengan masyarakat.

Rasa itu sudah seharusnya terus menjadi barometer dan di kampanyekan oleh SBY hingga akhir hayatnya. Kebersamaan yang Indah itu seharusnya terus dipupuk dalam semua aspek kehidupan baik Politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ibaratnya, saat itu tangga sudah terbentuk oleh alam, selayaknyalah kita dan pemimpin kita mengajari kebersamaan bagaimana menaiki tangga itu bersama-sama. Pengkotak-kotakan dan pengelompokan akan membuat sesama anak bangsa akan saling berebutan menaiki tangga itu, sehingga korban akan berjatuhan, ya kalau tidak diikuti rubuhnya anak tangga yang terbentuk itu karena terlalu sarat dengan beban perbedaan, perselisihan, pertengkaran dan rasa ingin menang sendiri.

Dan akhirnya apa yang telah di lalui  dan dilakannya dalam kebersamaan saat Tsunami Aceh 2004 lalu sepertinya hampir tiada berarti kini.

SBY demi kepentingan Politiknya (semoga Anaknya tidaklah hanya jadi bamper), dalam pemerintahan termasuklah Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, sepertinya telah melakukan hal yang sangat bertentangan dengan apa yang dilakukannya saat menangani Aceh paska Tsunami 2004.

SBY telah mengoyak kebersamaan dan torehan itu yang mencapai puncaknya saat dai berpidato untuk membakar suasana, perihal Penistaan Agama Gubernur non Aktif DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama. Pidato yang membakar amarah massa demi kepentingan Pribadi, keluarga dan Kelompoknya.

Pidato yang seperti mengajarkan kita, dengan tidak mengurangi rasa terimakasih padanya, akan apa yang di perbuatnya dalam menangani bencana Aceh tidak lebih dari sekedar pencintraan.

Dan demi pencintraan juga, bahwa dia adalah pembela Agama-nya yang terdepan, sehingga mengharapa pamor Anak Agus yang masih ingusan itu, naik dan bertambah besar peluangnya.

Itu jualah yang mungkin membuatnya membuat statement yang banyak dapat kecaman dan pujian dari pihak yang berbeda.

Sekarang kita seperti diajarkan bahwa semua harus dilakukan demi kepentinga, bukan demi kemanusian, kebersamaan dan solidaritas kebangsaaan. Dan sungguh amat di Sayangkan jika jasa itu harus dilupakan, karena susu sebelanga rusak karena bertitik-titik nila.

Salam Pewaris Nusantara.

 

cikeas sby, membongkar gurita cikeas, mengenang Tsunami Aceh, politik sby, politik sby 2016, politik sby busuk, sby aktor politik, sby politik dinasti, sby politik pencitraan, tsunami aceh, Tsunami Aceh 2004

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook