SBY:  1) Mengenang Tsunami Aceh 2004: Diantara Peringatan atau Tabiat

Sungguh mengenaskan kejadian Tsunamai Aceh yang terjadi pada hari: Minggu tanggal: 26 Desember 2004, bencana terdahsyat yang pernah terjadi menurut PBB. Kejadian yang tentu tidak perlu kita hakimi baik atas Tuhan dan/atau atas masyarakat yang mengalami, dan tujuan tulisan ini bukan untuk itu.

Bencana itu terjadi tepat 67 hari setelah Indonesia mempunyai Presiden Baru yang Pertama kali yang langsung di pilih oleh Rakyat yakni Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang di lantik pada tanggal hari Rabu, 20 Oktober 2004.

Illustrasi: SBY Dan Reruntuhan Pasca Bencana
Illustrasi : SBY Dan Reruntuhan Pasca Bencana (photo: beritasatu.com)

Sungguh Presiden yang baru dilantik harus menghadapi bencana alam yang terbesar di awal abad ini. Kadang terpikir kenapa bencana ini terjadi sesaat setelah Presiden baru ini di lantik? Kenapa tidak sebelumnya atau sesudahnya jaman nya? Tentulah pertanyaan yang sejenis tidak bisa di hindarkan sama sekali.

Bencana itu telah mendapatkan simpati dunia dengan bantuan cepat dan banyak mengalir dari seluruh penjuru dunia.

Rakyat telah di persatukan dalam semangat kebersamaan untuk saling bahu membahu, tolong menolong dengan cara yang mereka bisa untuk mengurangi beban masyarakat terdampak bencana. Baik bantuan tenaga, dana, dukungan, doa dan segala macam cara dan upaya, terutama media punya peran penting untuk terus memberitakan kejadian dan perkembangan nyata.

Saat rasa dan hati seperti tersadarkan bahwa lebih baik untuk memberi ketimbang menerima bantuan karena bencana.

Rakyat pun mengerti dan semakin bersimpati, betapa harapan besar pada Presiden baru harus di redam sedikit karena bencana ini yang akan menguras banyak waktu untuk memulihkannya. Simpati yang makin besar itu seperti mengikuti keinginan Presiden yang memang dikenal pencari simpati dan memang pintar untuk cari simpati dan mengerti benar cara memanfaatkannya.

Kelihatan bagimana beliau berhasil membangun basis dukungan dengan membangun simpati didukung banyak jaringan termasuk LSM di penjuru tanah air hingga pelosok negeri untuk memenangkan pemilihan presiden.

Apakah alam ini “Mendukung” cara Presiden ke enam ini, yang suka cari simpati dan menang karena simpati ini juga? Apakah alam memberi apa yang SBY inginkan?

Atau alam ini ingin menjadi penghalang utama untuk sang Presiden atas rencanan-rencana dan rancangan-rancangan besarnya? Yang baru saya sadari saat terakhir ini?

Fenomena dan kejadian alam baiklah dijadikan menjadi pembelajaran yang tidak berkeseduhan. Alam akan terus memberi peringatan tanpa henti, dan bukan pada tempat yang benar jika masyarakat yang megnalami hal ini juga di buat seprti harus memikirkan ini. Adalah kewajiban para pemuka, pemimpin dan panatua Negeri ini yang harus mengambil hikmah dalam semua kejadian alam dan memberi pencerahan atas semua kejadian alam.

Tentulah Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono lah yang harusnya menjadi pionir untuk itu dan memberi kita pelajaran dan pengajaran bahwa apa yang kita ingin ciptakan dengan processnya adalah sebuah rangkaian Doa. Sebuah kesalahan dan ketidak bijaksanaan akan  bisa mengakibatkan banyak orang menjadi korban bukan hanya masalah fisik tentu masalah mentallah yang terutama.

Presiden yang suka mencari simpati ini seperti sangat didukung alam pada saat itu untuk terus mendapatkan simpati  yang terus mengalir.

Mari terus belajar dari Alam wahai Pewaris Nusantara.

 

sby politik pencitraan, sby politik dinasti, sby politik pencitraan, sby aktor politik, politik sby, politik sby busuk, membongkar gurita cikeas, cikeas sby, politik sby 2016, tsunami aceh, mengenang Tsunami Aceh, Tsunami Aceh 2004,

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook