Sidang Kasus Ahok: 2. Mengadili Ahok atau Mengadili Tafsir atau Mengulur Waktu

Isu kasus Ahok yang dituduhkan menista agama semakin menjadi bola panas, Selasa ini 13 Des 2016 Sidang perdana akan segera di mulai.

Menjadi menarik untuk mengetahui bagaimana Hakim akan mengatur jalannya Sidang, dan semua tergantung benar pada kebijakan Hakim untuk melakukannya.

Sidang ini menurut kronology kejadian dari awal hingga kini dapat lah dikategorikan menjadi tiga bagian cara dan tujuan, Yakni :

1/ Mengadili Ahok, maka inilah hal yang termudah ketimbang mengadili tafsir.

2/ Mengadili tafsir, maka semakin beratlah dan semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk itu dan kemungkinan semakin kontroversi pun terbuka lebar

3/ Mengulur waktu: yakni hingga berakhirnya Pilkada DKI Jakarta pada tanggal 15 Februari 2016

Menarik untuk di ikuti bagaiman cara Hakim akan mengadili Ahok?

Perbedaan itu Indah: Hanya dengan meramu warna yang berbeda untuk menciptakan lukisan indah penuh warna
Perbedaan itu Indah: Hanya dengan meramu warna yang berbeda untuk menciptakan lukisan indah penuh warna (photo: deviantart.net)

Hakim tidak akan dapat mengadili kasus ini jikalau tidak ada kesepakatan tafsir siapa yang paling benar dan akan sangat mengkawatirkan jika tafsir itu hakim yang memutuskan.

Hakim di Negara ini tidak pada tempatnya untuk mengadili tafsir agama, karena Wewenang Hakim adalah untuk mengadili seseorang untuk tindakan yang melanggar Hukum (Negera).

Hakim bukanlah orang yang tepat untuk mengadili tafsir dan sudah selayaknya masalah tafsir ini di kembalikan pada mereka yang punya kapasitas untuk melakukannya. Dan Hakim lebih baik memutuskan berdasarkan tafsir yang disepakati pada mereka yang berhak.

Hal ini bukan tanpa polemik karena MUI sudah mengeluarkan Fatwa yang merugikan Ahok sebelum kasus bergulir. MUI secara kelembagaan kadung dianggap masyarakat sebagai yang paling berhak dan paling punya kapasitas untuk melakukan ini.

Nah jika diambil dari unsur lain, membuat team kecil dari mereka yang kompeten membuat tafsir itu menyepaki apakah mereka sepakat pasal tafsir itu atau tidak.

Ketidak sepakatan tentu akan dapat membuat tuntutan pasal penghinaan akan agama itu bisa hilang. Kesepakatan mengenai tafsir itu bisa dibuat Hakim sebagai landasan melepaskan atau menghukum Ahok.

Meski akan ada kontroversi lain merujuk kepada fatwa MUI, Meski sebenarnya fatwa adalah fatwa yakni tidak mengikat, hal ini juga perlu diperjelas kepada masyarakat.

Hemat saya itulah yang terbaik, ketimbang sidang panjang dengan melibatkan ahli bahasa, ahli psikologi dan lain lain tentu akan memakan waktu yang sangat panjang dan melelahkan.

Terutama masyarakat pun akan seperti dipermainkan rasa dan hati seperti yang terjadi pada pemerintah lalu, yang terkadang suka seperti mempermainkan sesuatu agar terlihat cantik dan elok dan bersih, mengikuti gaya kepemimpinan Pak Mantan yang suka pernyataan melankonis dan curhat. Yang tidak memperdulikan kerusakan yang ditimbulkan hingga kita lihat pola pikir masyarakat semakin lama semakin tidak positif dan semakin mudah merasa tersakiti dan semakin suka membalas. Ya partisipasi dari pemimpin lalu itu sangat besar dalam membentuk keadaan saat ini.

Opsi terakhir yakni mengulur waktu hingga akhir Pilkada bukan hal sulit, cukup lakukan sidang tafsir, panggil semua saksi dari berbagai disiplin ilmu dan bidang, maka terjadilah sidang yang semrawut dan bisa melawati waktu masa-masa penting Pilkada.

Ini juga cukup masuk akal dengan menganggap bahwa kelompok 1 satu akan menghentikan hal ini jika targetnya hanya memenangkan putra mahkota sang mantan. Lalu semua nya akan makin mudah tapi itu tadi termasuk mempermainkan perasaan masyarakat saya kira dan masyarakat akan makin sensitif. Dan jika sang putra mahkota kalah, maka belum tentu episode baru bisa dimulai, apalagi pengorbanan yang dikeluarkan terlebih harga diri dan kehormatan akan sulit bangkit, terlebih mereka yang sudah sangat gerah dan tidak nyaman.

Tetap ada hal terbaik yang bisa dimanfaatkan atas momen ini,  jika bisa dimanfaatkan untuk mendidik, menyadarkan masyarakat bukan hanya Muslim saya tapi semuanya bahwa ada hal-hal dimaana ada perbedaan pendapat para Ulamanya yang seharusnya tidak di umbar di tempat umum, dan adalah tidak etis memaksa kebenaran nya yang sepihak saja.

Momen ini bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan bahwa kebenaran satu pihak belum tentu kebenaran bagi pihak lain. Dan momen ini bisa dimanfaatkan untuk menyadarkan perbedaan itu adalah hal biasa dan lumrah dan hanya pensil warna yang ditata dapat menghasilkan gambar yang indah.

Semua kejadian bisa jadi pelajaran positif.

Salam pewaris Nusantara.

sidang ahok, sidang kasus ahok, persidangan kasus ahok, sidang ahok terbaru, sidang ahok kapan, penistaan agama, penistaan agama adalah, pasal penistaan agama,

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook