Gempa Aceh: Jangan Mengadili Tuhan dan Korban- Adililah Ketidakpedulian

Gempa kembali melanda pesisir Timur Aceh tepatnya di daerah Kab Pidie-Jaya, Rabu tanggal 7 Dec 2017. Gempa yang di kedalaman 15 km adalah termasuk gempa yang sangat dangkal dengan kedalaman hanya 15 km, dimana Gempa Dangkal dikategorikan jika ada pada kedalaman kurang dari 60 km adalah kategori gempa yang sangat merusak apalangi hanya pada kedalaman 15 km, sehingga bumi sebagai peredam seperti dibuat tak berdaya meredam goncangan.

Gempa adalah bencana yang tidak diharapkan oleh siapun juga dan masih sangat sulit memprediksi hingga kini.

Museum dalam bentuk Rumah Tradisional Aceh
Rumoh Aceh: Museum dalam bentuk Rumah Tradisional Aceh (Photo: acehpoegeutanyoe.blogspot.co.id

Gempa seyogianya menjadi dorongan untuk belajar dan terus berdamai dengan alam. Gempa bukan harus selalu selalu di doktin akibat hukuman Tuhan. Menghubungkan Gempa dengan ganguan KKR di Gedung Sabuga Bandung adalah sungguh mengadili  Tuhan, bagaimana mungkin kejadian di Bandung yang di Hukum di Kabupaten Pidi Jaya Aceh? Andai terjadi di Bandung sekalipun (semoga jauhlah itu) bagaimana mungkin hanya ulah segelintir orang harus sekota menanggung? Mari tidak mengadili Tuhan atas bencana.

Marilah mendorong semua unsur terlebih pemerintah dan akademisi untuk terus belajar dari kejadian-kejadian alam untuk terus belajar meminimali kerusakan dan korban. Lihat lah Jepang Negeri Seribu gempa belajar membuat gedung dari Pagodanya yang sangat tangguh menahan Gempa, Bangsa Jepang belajar dari teknologi Nenek Moyangnya yang ternyata ampuh untuk membuat banguan tahan gempa, filsafat Pagoda bergantung pada Tiang tunggal di tengah yang benar-benar mampu menahan gempa hebat mereka implementasikan dalam dunia modern.

Tentu tidak salah jika kita melihat kebelakang, kenapa leluhur kita hanya membangun Candi-candi Batu dan Bata Merah, kenapa leluhur tidak mengembangkan Rumah atau bagunan yang terbuat dari katakanlah Bata Merah seperti sekarang yang kemudian dibuat lebih murah meriah dengan Batako. Kenapa leluhur kita bertahan dengan teknologi kayu untuk bangunan?

Gempa adalah alasan paling logis leluhur kita mempertahankan struktur bangunan kayu sampai bangsa Eropa mulai memperkenalkan  teknologi semen. Struktur rumah-rumah kayu dengan pasak tanpa paku adalah struktur tahan Gempa yang luar biasa, disamping jaman itu dulu alam memang memanjakan leluhur dan leluhur juga turun memanjakan alam, sumbiosis mutualisme berjalan dengan caranya saat itu.

Leluhur mempertahankan pohon, hutan dan alam  dengan mitos-mitos dan larangan berbau klenik yang ternyata saat ampuh sebagai aturan yang mengikat leluhur dulu untuk mempertahankan kelestarian alam terutama hutan yang menghasilkan kayu untuk membuat rumah yang tahan ratusan tahun dan terlebih tahan gempa.

Mitos-mitos klenik yang banyak dari kita menganggap sesat atau ketinggalan jaman telah membuat ketidak pedulian dengan teknik-teknik dan teknology leluhur mempertahan dan bertahan hidup hingga kita ada saat ini.

Ketika kita tidak ditanamkan falsafah dengan cara kekinian, maka terjadilah kerasukan manusia telah menghancurkan alam yang sangat luar biasa, meski belum ada bukti ilmiah kekosongan gas di perut bumi aceh dengan gempa yang terus menerus terjadi ini.

Tentu sungguh berarti jika mitos-mitos klenik itu ditelaah para ahli yang didukan pemerintah dan diterapkan dengan cara kekinian tentu kita bisa senantiasa mampu meminimalkan atau mengurangi dampak bencara.

Rumah-rumah yang dulu yang kokoh dan tahan gempa seperti hampir musnah begitu saja. Bahkan punya rumah kayu sempat dianggap kuno dan miskin dan tertinggal, hingga kita malah hampir mustahil membangun rumah-rumah seperti itu terutama karena mahalnya biaya dan proses yang dibutuhkan.

Kemudian di media juga di bahas para pakar tentang bangunan tahan gempa, ijin mendirikan bangunanan dan kelayakan suatu bangunan. Sesuatu yang tentu tidak murah dan terjangkau masyarakat luas.

Adalah tugas pemerintah untuk membuat regulasi dengan terus berusaha mengembangkan teknologi tepat guna untuk pembangunan yang perlu terus di sempurnakan agar semakin hari bisa semakin terus di tingkatkan dan meminilisir bencana dan benar-benar membantu masyarakat.

Dan tugas kita sebagai masyarakan adalah untuk terus mengingatkan dan mendorong pemerintah untuk terus mendorong perubahan itu terutama lewat akedemisi agar terus mempelajari ilmu pengetahuan dan teknik-teknik leluhur dulu dalam mengarungi hidup yang terbukti bisa bertahan sehingga kita ada kini dan kemudian diterapkan dengan berbeda meski dalam filosofi sama.

Jejak-jejak itu masih ada, dan belum hilang musnah seluruhnya, meski kemusnahan itu sudah di depan mata.

Mari mengadili kepedulian kita akan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebijaksanaan pendahulu dalam memperlakukan alam dan manusia, karena tiap daerah punya cara dan teknik yang berbeda.

Mari Pewaris Nusantara.

bangunan tahan gempa, rumah kayu tahan gempa, kenapa rumah kayu tahan gempa, rumah adat aceh disebut, rumah adat aceh, Rumoh Aceh, rumah adat aceh dan keterangannya, rumah adat aceh Pidie, gempa aceh, gempa Pidie Jaya

 

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook