Surat Terbuka Untuk “Orang” Kristen Protestan/Katholik, Terlebih: Batak, Toraja, Nias, Tionghoa dan Lainnya

Salam Damai,

Maaf, sengaja saya buat “Orang” dalam tanda kutip karena sudah seharusnya kita Orang Indonesia yang beragama Kristen.

Dalam “masalah” yang saya hadapi dua hari terakhir ini, saya terperanjat dengan opini liar dalam diri saya dan saya diskusikan dengan teman-teman saat sore hari ini.

pewarisnusantara.com

Siapakah sebenarnya yang sedang bermain-main Politik dalam masalah yang dihadapi bangsa ini, dengan mengabaikan kerentanan di masyarakat-Rakyat kecil?

Orang Indonesia itu cinta Damai
Orang Indonesia itu cinta Damai (photo: gemadamai.blogspot.com)

Dari tulisan-tulisan dengan analisis tajam dan rumit saya sering dipertontonkan bahwa ada permainan 2 buah pihak, yakni yang mendukung Presiden (termasuk pendukung Pemerintah saat ini) dan mereka yang berambisi untuk menumbangkan Pemerintahan yang syah lebih sering ditujukan pada orang yang disebut Bapak Mantan.

Opini liar saya masih ada satu pemain kunci yang tidak kelihatan yang setiap waktu akan siap mengambil alih kendali dari mereka yang bertentangan sekarang ini. Siapakah dia? Saya juga tak begitu tahu dan tidak mau terlalu perduli, karena dia bukan apa-apa tanpa kita kaum Kristen. Mereka tidak akan ada kemampuan apa-apa jikalau tidak mampu membuat isu SARA yang menghadapkan kita pengikut Kristus dengan saudara kita Muslim.

Isu panas selama ini sudah bergulir jauh hari sebelum kasus tuduhan Penistaan Agama yang di lakukan Saudara kita Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama, adalah seperti minyak yang sengaja di siramkan dengan Bensin setiap saat. Sementara kita

Jujur yang saya amati dari Saudara-saudara kita Muslim (maaf untuk saudaraku dan sahabatku karena ini hanya opini saya saja) bisa saya kategorikan menjadi 3 kelompok pandangan:

1/ Militan tulen yang benar-benar militan, yakni mereka yang berani dengan terang-terangan melibatkan diri dalam hal yang langsung berhadapan, contohnya dalam isu pembangunan rumah Ibadah, saya percaya jumlah mereka sangat sedikit, seperti juga dari kita yang sedikit ada juga yang berbuat hal itu seperti di Toliwari Papua.

2/ Mereka yang Fanatik yang ingin menjalankan Agamanya dengan tidak mengganggu Agama lainnya, Tapi cenderung mereka ini tidak suka diusik, ini adalah masa yang jumlahnya cukup besar. Saudara kita dalam kelompok ini bisa cenderung berubah menjadi seorang militant, mereka tidak suka di usik jadi jangan sampai mereka terusik.

3/ Kelompok Plurarisme, yakni masa yang siapa berargument, berdebat dan siap untuk mengaku salah dan kilaf dan siap mengkritik saudara seiman mereka sendiri secara terbuka (semoga benar ini massa terbesar yang sering kita sebut “Silent Majority” atau mayoritas diam).

Entah siapa yang jadi pemain besar dalam Politik Negara ini akhir-akhir ini, membuat analisa dan pernyataan yang kontroversi yang seperti sengaja diumpankan dan sering kita yang Kristen, yang bernama Kristen atau Bermarga/Punya nama keluarga dari suku bangsa yang cenderung di identikan dengan Kristen, ikut meramaikan suasana diantara perbedaan pendapat dengan cara yang seperti terlalu terbuka sebagai teman  atau menjadi seperti sering berlebihan atau tanpa Filter.

Dalam hal ini Kasih seperti yang ditunjukan Keluarga Paman (Amangboru) kami (Intan Banjarnahor yang beristirahat dengan damai) dan anak-anak kami lainnya yang jadi korban, yang rela memaafkan pelaku BOM itu, seperti tak menggugah cara kita menyampaikan pendapat yang kadang Frontal tanpa memikirkan perasaan saudara kita yang sebagaian sensitive dan tanpa peduli bahwa kita juga sensitif di saat apa yang kita percaya di campuri mereka, kita sering lupa berkaca pada diri kita sendiri.

Kita tidak sadar sengaja di pancing terlibat dalam pertentangan dan ambisi dengan dengan tidak sadar didorong oleh ego kita untuk merasa benar dan menang telah menambah simpati dan perpindahan massa kearah militant, Ingat mereka merasa terusik.

Kita selalu di ajarkan untuk beroleh hikmat dalam pikiran, tindakan atau perbuatan, tapi seperti tidak mengindahkan ajaran itu. Kita diajarkan untuk Tulus seperti merpati dan licin seperti ular, tetapi malah tindakan kita seperti ular dan tersenggol langsung mematuk.

Kita lebih suka cenderung dianggap beriman, dengan memposting apa yang kita rasa adalah kebenaran dan penting untuk didengarkan yang lain tanpa kita pikirkan cara menyampaikan dan cara membagikan dengan hikmat. Kita sering membela Pemimpin yang kita rasa benar dan puja tanpa perduli dengan cara kita menyampaikan Pembelaan.

Apakah itu tanda kita orang beriman? Atau hanya pemuas ego dan diri semata? Berkacalah adakah itu hanya memuaskan ego kita semata, agar kita bahagia dan tertawa dan merasa menang? Atau kita sedang berburu mendapat tiket ke surga dengan cara cepat dan bebas hambata?

Kita seperti lupa punya Pengharapan untuk menjadikan Sorga di keluarga, di lingkungan, di Gereja di Bangsa dan Negara, yakni: Hidup yang damai, yang saling mengingatkan yang saling membantu, yang saling mengerti dan bersaudara. Hingga menuju surge yang di janjikan kelak.

Kita seperti tidak mengejar kasih untuk  di perlihatkan, Kita lupa mengasi sesame setara dengan Mengasihi Tuhan Allah. Ataukah kita lupa bahwa semua manusia adalah sesama kita?

Lihatlah akhir-akhir ini ada postingan-postingan atau gambar-gambar yang seperti sengaja disebarkan kepada dua pihak yang berbeda pendapat, yang di upakan agar kita meluapkan apa yang selama ini tersendat dan tak bisa keluar.

Kita tak pernah coba pikirkan apakah saudara yang membaca itu sakit hati dan merasa teriris. Bukan Kasih itu tidak akan membiarkan hal itu terjadi?

Kita tahu dan terus mengikuti postingan-postingan yang kita anggap pencerahan dari saudara kita Muslim atas saudara-saudara semiman mereka. Dan aktif berkomentar dan ikut membagikannya dengan gegap gempita. Kita lupa batasan yang ada pada kita.

Mayoritas saudara kita itu adalah yang mencintai negeri ini. Biarlah mereka mencerahkan di sesame mereka tanpa kita campuri, karena kita sendiri juga mengalami hal ini di dalam aliran-aliran yang ada.

Kita selalu mengingatkan jangan sampai Indonesia menjadi Suriah baru, Lebanon baru tapi kita tidak perhatikan dan perduli cara kita menyampaikan pesan seolah kita manusia paling benar.

Mari hentikan semua ego pribadi ini, bagikanlah atau tegurlah semua dengan Kasih, dengan welas asih dan kebijaksaan.

Para penghacur butuh kita untuk mengacaukan Negeri ini, begitu juga para Ksatria bangsa in butuh kita untuk membangan Bangsa ini.

Maka kasihilah Bangsa ini, Kasihilah Saudara sebangsa kita agar jauhlah ego kita di tunggangi untuk melakukan kehancuran bagi Bangsa ini.

Jangan takut menghadapi semuanya, tapi bersiagalah senatiaasa agar jangan kita diperalat oleh keadaan.

Salam dari orang berdosa ini.

Salam Pewaris Nusantara.

X provokator 212X aksi damai 212X penistaan agamaX kasus penistaan agamaX kudeta jokowiX rencana kudeta jokowiX kebencian terhadap suatu kaumX kebencian dalam hatiX isu kudeta jokowi

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook