Sampai Kapan Kita Saling Menyerang dan Menyakiti dan Unjuk Gigi?

Berlomba besar, berlomba banyak adalah seperti parade yang dipertontonkan pada rakyat akhir-ahir ini. Semua berasal dari tuduhan Penistaan Agama terhadap Gubernur non aktif Jakarta Basuki Cahaya Purnama.

Mudah mempermainkan jika hanya ingin melihat sisi negatif
Mudah mempermainkan jika hanya ingin melihat sisi negatif (Photo: masterberita.com)

Terbaru adalah Aksi Masa Aksi damai 212 ( 02 December 2016 atau disebut pula Aksi Masa Jilid 3), yang mencapai ratusan ribu orang dan diakhiri dengan hadirnya Presiden, wakil Presiden dan elit Bangsa yang turut bersama melakukan Sholat Jum’at.

Presiden Memuji massa dan meganggap aksi kali ini damai dan Indah, meski ada hal-hal yang seharusnya tidak merusak penilaian ini jika tak berlebihan di umbar dan dijadikan alat saling menyerang.

Menyerang satu sama lain adalah hal yang mudah, tak perlu orang yang pintar sekali untuk menyerang katakanlah saya mau menyerang yang melakukan Aksi Damai 212, tinggal cari kekurangannya maka selesai sudah misalkan :

  1. Kalau hanya sejuta orang kok dianggap mewakili, karena jumlah penduduk Jakarta ada lebih dari 10Juta orang dan semua di danai (komen yang menyakitkan bagi mereka yang datang dengan tulus tentunya).
  2. Kemudian banyak caci maki, katanya Aksi damai tapi kalimat dan spanduk “Penjarakan Ahok” masih bertebaran serta tindakan-tindakan lainnya.
  3. Kemudian bisa di lanjutkan dengan mengatakan sebagai Aksi Gagal, Gagal mengkudeta Presiden Jokowi dengan rencana semual yakni menduduki Gedung DPR/MPR

Yang sulit itu melihat dari sisi positif, hal yang tidak akan menambah ketegangan, tinggal dipikirkan bagaimana permainan elit itu tidak sampai merusak masyarakat bawah, tapi menambah ketenangan dan kesejukan, contohnya atas tiga point negatif diatas.

  1. Tidak mudah mengumpulkan Sejuta orang apalagi dari berbagai daerah, karena mereka menghabiskan waktu, tenaga, dan dan lain-lain untuk itu
  2. Secara umum Aksi Damai berlangsung tertib dan lancer dan bubar dengan lancar juga, meski ada sebagian peserta yang seperti nya berbeda dengan tujuan aksi itu sendiri (itu adalah biasa dan bisa dianggap deviasi)
  3. Yang ikut aksi pulang sesuai rencana dan tertib sehingga para penumpang gelap gagal melaksanakan aksinya, tidak terbayang kalau massa itu mengarah ke Gedung MPR dan DPR, artinya umumnya massa tidak terpikir untuk ikut atau mau melakukan kudeta. maka saatnya mengucapkan terimakasih.

Orang-orang kecil dibawah tentu tidak akan mampu mencerna tulisan dan analisa Politik yang dalam dan rumit, karena umumnya mereka ikut hati, ikut orang yang mereka anggap panutan dan tergerak, itulah massa mayoritas.

Dan media sosial dengan systems Algorithma yang rumit akan selalu memuncul apa yang pengguna sering komentari dan menjadi kontroversi sehingga pantun yang menyakitkan akan terus  saling bersahutan.

Hati seperti tidak mampu melihat dan mencerna mana yang baik mana yang tidak, status hanya ingin menyerang, ingin memuaskan emosi semata.

Tujuan adalah menang kalah secara manusiawi yaitu diserang membalas dan terus berulang samapi skor yang tak jelas didapat.

Yang satu merasa lawan disebelah sana sebagai “kaum sumbu pendek” yang gampang meletup letup tanpa memikirkan cara membalas yang kita anggap penyampaian sebenarnya hanya akan  membuat letupan itu makin cepat.

Dan yang di serang merasa di lecehkan panutannya atau apa hak exclusifnya atas keyakinannya.

Semua merasa bahagia jika sudah membalas, tapi tidak merasa bahwa kepuasan itu sesaat dan saling menyerang itu menjadi candu yang sangat merusak.

Sang Dalang tinggal memanfaatkan situasi dan berusaha membuat semua semakin terluka. Kelompok yang merasa akan diserang mempelajari dan terus mengawasi dan memikirkan strategi mengantipisi langkah catur kuda lawan.

Kedual belah pihak di suplai dengan data dan opini yang siap di menggempur.

Entah sampai kapankah kita menjalani ini?

Terkadang koreksimu saat ini  tidak kubutuhkan karena saat ini aku butuh penghargaan dan ketenanga.

Dan sampaikan kapan kita berlomba unjuk gigi dengan terus melakukan pengerahan massa? Mengalah bukan berarti kalan bukan?

Salam Pewaris Nusantara.

 

X pencerah nusantaraX pencerahanX kesatuan bangsaX saling menyayangi dalam islamX saling menghargaiX saling menasehatiX membangun karakterX membangun karakter bangsaX membangun karakter anakX membangun karakter diriX membangun demokrasi untuk indonesia

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook