Tor-Tor: Antara Nasionalisme dan Asal bukan Malaysia

Berawal dari rencana masyarakat Mandailing Malaysia yang sudah tinggal di Malaysia lebih dari 200 tahun lalu, jauh sebelum Indonesia dan Malaysia berdiri – dan kini berjumlah sekitar 500 ribu orang, untuk menunjukkan eksistensi dan identitas diri dan mensejajarkan Budaya Nenek Moyang-nya agar menjadi bagian Budaya terdepan di Malaysia.

Tarian Mandailing
Tor-Tor Mandailing (photo Viva.co.id

 

Dan supaya tari Tor-Tor dan Gondang Sambilan bisa dilestarikan dengan mendapat pengakuan resmi negara dan bisa dipentaskan di Malaysia dan di seluruh acara-acara Penting di Malaysia.

Dan sebagai pemerintah yang bijak dan jelinya melihat peluang Malaysia pun membuka tangan agar Tor-Tor bisa masuk akta warisan budaya negara. Perjuangan yang lebih 70 tahun hampir jadi kenyataan.

Sejauh ini tidak terlihat kata “klaim” muncul dari pihak Malaysia, karena Komunitas Mandailing Malaysia tidak pernah menolak bahwa nenek moyang mereka Berasal dari Indonesia tepatnya Provinsi Sumatra Utara.

[pullquote]Semoga ini bukan masalah kebencian, yang akhinya hanya akan menghilangkan akal sehat dan merugikan negara ini jika terus dipelihara[/pullquote]

Begitu juga Malaysia tidak mungkin nekat mengklaim bahwa Tor-Tor dan Gondang Sembilan adalah budaya mereka, dan itu hanya akan menjadi cemoohan dunia kalau hal itu terjadi.

Akan tetapi peluang Tor-Tor akan lebih identik dengan Malaysia di kemudian hari terbuka lebar. Melihat seriusnya Pemerintah Malaysia membangun dan mengembangkan Kebudayaan yang ada pada Masyarakat dalam Payung Satu Malaysia.

Kebudayaan memang adalah hal mendasar dan bernilai tak terhingga, itulah sebabnya banyak negara maju menyediakan biaya dan dana besar untuk mempelajari kebudayaan dari berbagai belahan Dunia.

Begitu berharganya sehingga Belanda mengangkut semua peninggalan-peninggalan bersejarah negeri ini jauh ke Belanda dan sampai hari ini mereka tetap menjaga dan memeliharanya meski dengan biaya sangat mahal.

Meski nilai kebudayaan Belanda sendiri bernilai lebih tinggi, tapi bisa jadi mereka bisa menjajah Indonesia 350 tahun lamanya karena menguasai budaya suku Bangsa Indonesia.

Dan kita akan sangat bangga saat Barat dan Negara lain mengembangkan, mementaskan dan memplubikasikan Budaya Indonesia, meski untuk komersialisai dan tanpa membayar fee.

Seperti bangganya kita tahu bahwa di China, ada lagu-lagu daerah yang begitu merakyat seperti Bengawan Solo, Ayo Mama dan Lagu Sing Sing So yang di pentaskan saat penutupan Asian Games XVI/2010 sebagai perwakilan seni budaya kawasan Asia Tenggara.

Tapi sepertinya ini tidak berlaku untuk satu Negara yaitu Malaysia dan bisa jadi biang keroknya adalah “prinsip” asal jangan Malaysia?

Apa salahnya Malaysia kalau mereka peduli Budaya kita? Apa salahnya Mandailing Malaysia jika mereka ingin melestarikan budaya Moyangnya di negera yang mereka tempati kini. Apa salahnya Malaysia kalau Indonesia tidak serius mengembangkan dan Budayanya atau malah menyepelekannya?

Adakah ini adalah rasa Nasionalisme atau kebencian semata?

Semoga ini bukan masalah kebencian, yang akhinya hanya akan menghilangkan akal sehat dan merugikan negara ini jika terus dipelihara.

Salam Pewaris Nusantara,

Mari Berbagi dan Berubah Demi Indonesia.

X Komunitas Mandailing MalaysiaX tor-tor MandailingX tor-tor batakX tortor batak mandailingX tortor mandailing natalX tarian tortor mandailingX tari tor tor diklaim oleh malaysiaX tari tor tor diklaim Malaysia

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook

Tinggalkan Balasan