Selamat Jalan Sang Putra Pertiwi: Mr. Macko Tabuni

Kabar menyedihkan kembali terdengar dari belahan Timur Negeri ini, yakni meninggalnya seorang Putra Ibu Pertiwi dari tanah Papua, tanah yang sampai detik ini masih bagian integral dari Republik ini, di tangan aparatur Negara yang

Macko Tabuni
Macko Tabuni (photo: beritasatu.com)

bersemboyan mengayomi dan melayani masyarakat.

Kematian Seorang Putra Ibu Pertiwi yang ingin memberikan hal terbaik bagi tanah yang melahirkan dan membesarkannya, dengan cara yang dia yakini paling baik.

Selamat jalan Mr. Macko Tabuni Ketua1 Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menginggal dalam kerusuhan di Wamena.

Dan Pemerintah sepertinya sampai hari ini masih menggunakan cara-cara lama untuk dalam menangani masalah seperti ini. Sepertinya kita lupa bahwa kematian seseorang karena sebuah hasrat bernama perjuangannya tidak akan bisa memadamkan perlawanan, tapi malah akan membakar semangat, seperti Surabaya 10 November, Bandung Lautan Api, Enam jam di Jogya, Pertempuran Medan Area dan lain-lainnya. Sudah hukumnya darah berbalas darah.[pullquote]tidak ada seorang pun yang layak dikorbankan di Negeri ini [/pullquote]
Dan kampanye negatif tentang Mr. Macko Tabuni tidak akan ada hasil karena di sudut manakah di negeri ini ada kepercayaan pada aparat?

Harusnya masih segar dalam ingatan Para elit Negara ini, apa yang di lakukan oleh salah seorang Putra terbaik bangsa dalam menangani dengan kebijaksanaan dan dengan cara yang sangat berbeda terhadap suatu Perlawanan Rakyat yang sering kita istilahkan sebagai Separatis di timur-timor, tentunya sebelum konflik elit di pusat menghancurkan kepercayaan yang di bangunnya dengan susah payah.

Ya… pelaku sejarah itu masih hidup dia adalah Letjen Purn. Sintong Panjaitan dan dia juga yang disebut-sebut terlibat bersama Feisal Tanjung membujuk kepala suku di Papua agar bergabung dengan Republik. Kalau memang benar seperti itu, biarlah dia membuktikan bahwa ajakannya agar Papua bergabung dengan Republik ini adalah pilihan terbaik bagi saudara kita di Papua. Dan bukankah tidak ada lagi yang perlu di kawatirkan tentang dia?

Dan langkah Presiden RI keempat (alm. Abdulrahmah Wahid) sangat perlu di tiru, yakni saat mengakui legalitas GAM sebagai satu-satunya organisai resmi yang ingin memerdekakan aceh.

Langkah yang banyak ditentang dan membuat kontroversi waktu itu. Meski akhirnya kita sadar itu adalah langkah brilian, dimana RI membuka pintu negosiasi dan patut di catat, hanya dengan satu Organisi saja dan ketika pilihan jatuh untuk tetap bergabung dengan Republik Indonesia, dunia tidak mengikutinya.

Dan Saudaraku di Papua juga perlu mempelajari apakah tepat jika ingin lepas dari negeri ini? Apakah bangsa luar itu memang sangat peduli dengan kemerdekaan atau pelanggaran HAM atau penderitaan atau apapun masalah di Papua? Atau mereka hanya peduli kekayaan Papua dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi?

Pilihan ada pada Putra/Putri Papua. Dengan kepala dingin dan Doa untuk Papua yang Lebih baik.

Selamat jalan Mr. Macko Tabuni, semoga engkaulah korban terakhir dan tenanglah dalam tidurmu dalam hangatnya pelukan Ibu Pertiwi.

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook