Intoleransi atau Kegagalan Satu Indonesia

Intoleransi
Membelenggu diri? (photo: muslimmirror.com)

“Penyegelan” rumah Ibadah di Aceh Singkil kembali menjadi berita hangat. “Penyegelan” yang berlindung pada perjanjian untuk membatasasi pembangun Gereja dan Chapel juga Peraturan Gubernur Aceh Nomor 25 Tahun 2007 yang menyebutkan bahwa pembangunan rumah ibadah non-Muslim bisa dilakukan jika umat yang bersangkutan berjumlah 150 orang, dan mendapat izin persetujuan dari umat Muslim sebanyak 90 orang.
Sebagian menyebutnya sebagai ketiadaan Toleransi dalam kehidupan masyarakat.

Defenisi Toleransi itu sendiri menurut Wikipedia adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

[pullquote]Ini adalah akibat kegagalan Satu Indonesia[/pullquote]

Dan semangat toleransi seperti defenisi di atas sudah terangkum dengan jelas dalam Butir-Butir Pancasila sebagai hasil Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa, seperti berikut ini:
A. SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA

  1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

[pullquote]Inilah kegagalan Satu Indonesia[/pullquote]
Saya pribadi tidak melihat sikap toleransi sebagai sumber permasalahannya, tapi itu hanya sebuah produk dari sebuah kegagalan membangun, mengembangkan dan mengawal Pancasila sebagai Budaya untuk Satu Indonesia.

Dan bukankah masih ada 200 juta lebih penduduk Indonesia yang peduli? Jikalau 200 ribu orang berbuat tidak mengenal toleransi, artinya secara matematika hanya 0.1% yang berbuat seperti itu.

Dari persentase itu sangatlah tidak bijak jika kita mengkategorikan hal ini sebagai masalah toleransi antara umat beragama. Sangat tidak adil dan bisa jadi hanya akan melukai perasaan saudara kita yang selama ini begitu peduli dan begitu prihatin akan hal ini.

Dan semakin kita membesarkan masalah ini sebagai sikap ketiadaan toleransi, maka secara langsung atau tidak kita telah membantu mereka yang sering memanfaatkan issue ini untuk menyebar luaskan jargon,  jaringan dan kepentingan kelompok mereka.

Mari untuk tidak menkampanyekan masalah ini sebagai masalah toleransi di masyarakat.

Mari kita bawa ini sebagai kegagalan dalam membangun, mengembangkan dan mengawal Pancasila untuk Satu “Kebudayaan” Indonesia.

Mari berbagi dan berubah Demi Satu Indonesia.
Salam Pewaris Nusantara.

 

 

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook

Tinggalkan Balasan