IASJ – Ikatan Alumni Salah Jurusan

Milik : http://pustaka.pu.go.idTeringat sebuah perbincangan kecil dengan seorang Manager Operasional berkebangsaan Philipina waktu bekerja di perusahaan yang lama.

Menurutnya, di Philipina untuk menjadi seorang tenaga profesional (Engineer) harus mempunyai sertifikat khusus , yang harus di dapat dengan tingkat kompetensi yang tinggi dan sulit, tapi selanjutnya dengan sertifikat itu akan menjamin penghasilan yang memadai sewaktu di terima bekerja di suatu Perusahaan. Lagi katanya di negerinya untuk masuk dan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi tidaklah sekedar melamar atau lulus testing tapi kualifikasinya kelulusannya dari Sekolah Menengah Atas harus bisa memenuhi kriteria.

Gambarannya kira-kira seperti berikut:

  1. Lulusan Kategori A : Adalah yang terbaik, berhak melamar dan mendapakan pendidikan di bidang Akademi Kepolisian/Militer, Aparatur Pemerintahan, Kedokteran, Hukum, Filsafat, Rekayasa,  Pendidikan, Keagamaan, Keuangan dan Perbankan dll.
  2. Lulusan Kategori B: Mereka yang tidak boleh melamar pada bidang yang di peruntukan untuk Kategori A. Kelompok ini bisa melamar untuk Bidang Keteknikan, Kesehatan Masyarakat, Kebidanan, Sastra dll.
  3. Lulusan Kategori C: Mereka yang tidak bisa melamar pada pilihan Kategori A dan B, jadi yang ini baiknya cocok untuk  Politeknik, Keperawatan, Jasa, Perdagangan dan bidang bidang administrasi
  4. Lulusan Kategori D: Yang bisa masuk pada sektor Pelayanan dan Pekerja sosial atau di siapkan jadi karyawan di tingkat pemula.

Dan ujian saringan masuk adalah adalah seleksi untuk mendapatkan bangku di sekolah favorit semata.

Jika melihat kondisi Philipina yang tidak lebih baik dari kita, saya hanya tertawa kecil dan bertanya dalam hati apa benar seperti itu di Philipina?  Tapi tidak terlalu esensial untuk mencari  kebenarannya, ketertarikan saya jatuh pada idenya yang keluar,  ide brillian yang pastinya tidak akan memerlukan dana yang mahal atau menggerogoti anggaran Negara.

Bagaimana jika ide di atas di kembangkan dan diterapkan pada systems pendidikan Indonesia. Jadi kita bisa medapatkan Orang yang tepat pada posisi yang sesuai – Setidaknya meminimalis orang yang salah karena berada pada posisinya yang salah.

Dan sudah ada Guru BP(Bimbingan dan Penyuluhan) di setiap sekolah, yang harusnya mengarahkan dan mengembangkan bakat siswanya agar tahu kemanakah dan dimanakah tempat terbaik baginya.

Jadi bagi mereka dengan kemampuan menengah ke bawah bisa di bina di SMK dengan telaten sehingga siap terjun bekerja di Industri dengan kemahiran yang dimilikinya dan dibina dan diarahkan agar dia dapat mengembangkan Kemahiran itu sehingga menjadi tenaga Profesional.

Harapan saya mudah-mudahan kelak akan mengerti kemampuan anak saya dan apa yang anak saya butuhkan, ketimbang apa yang saya inginkan, sehingga dia akan dapat “pekerjaan” yang sesuai dengan minat dan bakatnya dan tidak menyusahkan orang lain karena dia tidak termasuk  dalam IASJ (Ikatan Alumni Salah Jurusan).

Semoga………

=========================================================

Berikut beberapa cerita dari kejadian yang penulis temukan semoga bisa kita petik hikmahnya:

  1. Karyawan yang berjiwa Pengacara – yang hari hari membaca dan membahas Undang-Undang Perburuhan dan memikirkan nuntut naik gaji lalu rencanakan aksi mogok versus Manager Personalia berjiwa rentenir yang hanya memikirkan “improvement’ dengan tidak peduli pada karyawannya.
  2. Tidak akan kita lihat lagi Dokter yang berjiwa Customer Service yang hanya memerika pasien secara verbal sambil ber SMS ria atau dokter yang menganggap Pasien adalah bahan praktek yang di bisa di ganti “suku cadangnya”.
  3. Bisa di minimalis Pejabat yang berjiwa Pemulung yang suka mengumpulkan uang dan hadiah dari rakyat yang membayar pajak , yang di ubah bentuknya menjadi Gaji dan Tunjangannya,  versus Pemulung yang berjiwa Pejabat yang suku memungut barang orang yang belum dibuang pemiliknya, seolah dialah Penguasa-nya.
  4. Bisa di minimalis Wakil Rakyat yang berjiwa Penguasa dan gila hormat, yang harusnya menjadi Pelayan Utama Rakyat sebagai pemegang Kedaulatan tertinggi di Negeri ini, eh malah suku membohongi dan merasa dirinnya adalah “tuan” dari tuan-nya sendiri yaitu Rakyat, Sedihnya hati ini………………
  5. Bisa di minimalis Politikus  yang berjiwa aktris Sinetron Murahan yang selalu membuat yang sabar dan baik susah selamanya dan hanya menang di akhir episode (iya… kalau episode nya nggak di sambung – kata Jamrud) versus Artis Sinetron yang berjiwa Politikus yang  masuk gedung DPR dan bertingkat seolah Gedung DPR adalah parade sinetron murahan kejar tanyang – yang memuakkan itu.
  6. Yang bermental “pemalas” masuk fakultas Hukum, akhirnya lulus di paksakan setelah 10 tahun, lalu dengan berbagai cara jadi karyawan kejaksaan atau Kehakiman atau Pemerintahan lainnya, yang abis Apel Pagi dia sarapan pagi, abis sarapan pagi dia baca koran pagi, Abis baca koran pagi makan siang, abis makan siang jalan-jalan di Mall, abis jalan-jalan di Mall baru masuk kantor sesungguhnya.
  7. Bisa di minimalis Agamawan yang bermental Politikus, suka bermain angka dan statistik, Suka bikin isu, suka menyerang orang yang tidak sepaham dengannya. Atau Agamawan bermental Preman, yang suka buat keributan di mana-mana.

Silahkan Di lanjutkan…………….

 

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook

Tinggalkan Balasan