Harga Diri

Beberapa hari ini situasi yang panas terjadi di sebuah Group Facebook yang kental akan sifat Etnis dan Kedaerahan.

Harga diri
Harga Diri (photo: http://kebajikandalamkehidupan.blogspot.co.id)

Dimulai dengan munculnya status seseorang , yang mengangkat isu sarat kontroversi dengan gaya bahasa keras dan tanpa basa-basi, menghentak dan menyerang symbol Identitas Etnisnya sendiri.

Dan respon yang wajar dan manusiawi bermunculan.  Sebagian anggota group menyerang balik dengan lelucon konyol (yang sarat dengan makian dan cacian kotor) atau komentar yang malah memperparah situasi. Seolah itulah cara terbaik untuk  mempertahankan sebuah “Harga diri”.

[pullquote]Akankah kita menerima dan mengakui keburukan dan kebobrokan itu sebagai fakta nyata yang harus kita hadapi bersama.[/pullquote]
Lalu semakin parah, ketika beberapa Admin Group itu, yang harusnya bisa mengarahkan kontroversi itu menjadi hal positif dan berguna, malah terlibat dalam debat kusir dan olok-olok dengan angkuhnya, seolah dia adalah Hakim atas  Saudaranya itu. Dan dengan “Gagah Perkasa” menghapus topik dengan ratusan komen tersebut.

Dan….. sang pembuat topik init tidak kalah sigap, langsung membuat status baru dengan topik yang sama dan dengan semangat yang masih membara. Akhirnya sang Admin kembali dengan  “Gagah Perkasa”-nya menyudahinya dengan menghapus topik kontroversi dengan ratusan komen tersebut sekaligus keanggotaan pembuatnya.

Menyedihkan, dijaman yang serba terbuka ini masih ada saja orang berpendidikan baik malah bertindak otoriter. “Kegagalan”nya mengawal dan mengarahkan perdebatan ditutupinya dengan jalan pintas dan konyol.

Seolah semua komentar itu dan pembuatanya adalah “sampah” dan merupakan “aib “yang harus di buang jauh-jauh. Entah mengapa tidak mencoba memamfaatkan kericuhan sebagai pembelajaran untuk menguasai dan memperbaiki keadaan dan selanjutnya mengubahnya menjadi kemilau yang berharga.

Sampai kapan kita bisa menyadari bahwa kesalahan terjadi karena adanya andil kita secara langsung ataupun tidak.

Bilakah kita berhenti mencacimaki, karena itu adalah kutuk atas Putra-Putri Bunda Pertiwi dan maukah kita mengubahnya menjadi berkat!

Tahukah kita bahwa hak penghakiman tidak ada pada kita!

Akankah kita menerima dan mengakui keburukan dan kebobrokan itu sebagai fakta nyata yang harus kita hadapi bersama.

Bisakah kita sepakati bahwa keburukan dan kebobrokan yang jika di biarkan akan jadi bumerang  bagi anak cucu kita.

Adakah kita terus belajar  untuk mencari kebenaran sejati bukan  hanya Pembenaran sahaja!

Akankah Aku “Berubah untuk Indonesia”.

 

Salam Pewaris Nusantara.

Karles H. Sinaga

Karles H. Sinaga

Pewaris Nusantara - Founder: Batak.web.id - Akun Facebook

Satu tanggapan untuk “Harga Diri

Tinggalkan Balasan